Hasil Lomba Narasi – Kasih dan Kepedulian Untuk Papua

 

Berikut ini adalah hasil penilaian juri atas beberapa tulisan yang masuk kepada panitia lomba narasi melalui e-mail: pmkri.ham@gmail.com.

Dari 57 karya yang masuk, hanya ada 6 pemenang lomba. Berturut-turut dari juara 1 samapi 6 seperti di bawah ini. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan tulisannya karena telah berkontribusi bagi Indonesia yang lebih baik. Bagi yang menang, akan dihubungi panitia lomba kembali.

Hasil ini sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Berikut para pemenang lomba dan tulisannya:

Juara 1
Kan Ku Bawa Ratapan Jadi Damai
Karya: Natho Pigai

Luka masih tersimpan,
pedihnya hati ini,
sekian abad engkau merintis ratapan,
sekilan tahun engkau menyakiti,
sekian bulan engkau mengoreskan hati,
sekian minggu engkau meneteskan air mata.

Luka masih membekas cukup lama,
hampasan luka masih terasa,
luka tangisan yang terdengar dimana-mana,
di hutan belantara,
di lubang batu bahkan di kota-kota,
bagai guntur yang membelah langit.

Luka masih tersimpan di ingatanku,
engkau memukul bertubi-tubi,
luka pedih yang mendalam mengoncang hati,
engkau mengucurkan darah manusia yang tak salah.

Aku dapat melihat semua ratapan ini,
apa yang aku pikirkan,
tentang ratapan negeri yang tak terungkap berulang-ulang kali,
tapi semuanya telah terbuka bersama waktu,
dan semuanya terbaca di mata penjuru nusa pertiwi.

Bagaikan pungguk merindukan bulan,
jiwa ini terpuruk dalam heningan ratapan,
pagi yang menjadi malam,
bulan yang menjadi tahun,
sekian lama telah menanti.

Dirinya tak juah lepas dari belengku hidup,
tangisan mata berkedip terus-menerus
ratapan yang dirasakan sekian abad
andai aku sang kesaktria,
aku pasti menyelamatkan bara ratapan.

Namun semua hanya mimpi,
dirinya yang harus berlaga untuk memetik kerinduan yang terpendam
untuk membawa pergi ketidakadilan menjadi adil,
tuk bebas dari jeruji ratapan jagat alam.

Hentakan suara ratap itu membumbung,
rasanya membuat aku terhentak berulang-ulang,
sebab pembawa ratapan mulai berontak sekelilingi,
dengan wajah seram dan jahat,
mereka memainkan pedang arogan yang kejam,
lakunya membabibuta sambil menebas,
hidup menjadi enteng dibasmi.

Lihatlah si… Keriting itu,
di balik ratapan ia menjerit,
kami bukan se-ekor binatang,
apakah hukum berfungsi untuk melindungi se-ekor binatang
lihatlah kami di balik ratapan tangisan,
apakah hukum berfungsi untuk melindungi buah pisang.

Wahai…!
Pak Presiden yang terhormat,
lihat kami disini,
kami di singkirkan oleh sang pemberontak,
pantaskah kami dilakukan seperti ini,
Hukum itu untuk Siapa?
Keadilan itu untuk Siapa?

Tuhan lihatlah mereka,
Tegur mereka,
Apakah mereka sadar?
Apakah mereka tak mengerti tentang keadilan?

Dulu, suasana riang menyelimuti wahana,
sungguh hati bahagia berada di sini,
kini, semua berubah bersama zaman yang mengila,
bangsa asing yang tak pernah aku lihat sebelumnya,
mereka berbondong berdatangan,
wajah ganas pun terasa nampak jelas,
membunuh adalah sikap terselubungnya.

Aku tetap diam dalam seribu bahasa,
sambil kuasah mimpi-mimpiku,
lalu kuhunus pedang cinta hingga berdarah,
kupetikkan asmara dalam dada,
hanya dengan diam membisu.

Lelahku telah habis sedetik lalu,
cukup sudah istirahatku,
kusiap berpacu,
menuju mimbar biru itu.

Di dalam bilik kecil hatiku,
gelora jiwa beriak tak henti,
kaki ini akan melangkah menuju,
meski jalan mendaki.

Aku tahu,
kerikil terhampar luas,
terik mentari kan menampar,
sakit dan rasa hambar,
tangis dan doa menghantar,
raga yang kaku terhampar,
hingga malam datang bertukar.

Pungguk enggan bersenandung,
melihat bulan bersinar sendu,
kala negeri berduka pilu,
di manakah sang bintang pelindung.

Sang kejora mengintip di balik awan,
indah menawan dihati,
sambil kuketuk bibirku,
kuberdevosi, “cukup sudah penantian panjang ini”,

Angin subuh pun berhembus pelan,
menghantar pergi kabut pagi,
berganti sang surya keemasan.

Bersahut-sahutan Kakatua si penjaga negri,
Nuri bernyanyi tak hentinya,
Saat itu Cenderawasih kibarkan panji kebesarannya,
Mambruk sang kesatria melangkah anggun mempesona,
Kasuari sang setia pun melangkah anggun,
mengawal datangnya pagi di negeri Papua.

Ya, semula aku memang tetap diam,
tapi bukan lupa ingatan,
dan bukan tak peduli pada ribuan ratapan tangisan,
kini kumulai tersenyum tawar melintas dihadapanku
dan bibirku bergerak berteriak,
tentang keadilan dan kasih di negeri tercinta,
alunan nada akan kudenungkan membahana,
hingga sanubariku terhenti berdetak.

Ku berjanji pada semuanya,
akan ku bawa bara ratapan negeriku,
walau di tengah goncangan gempa buatan manusia tak peduli,
wahai nusantara dengarlah teriakanku,
marilah bertahan kokoh tuk keadilan dan keselamatkan,
di bumi yang penuh ratapan dan jeritan.

Semua telah hilang tersapu angin buatanmu,
semua telah musnah,
tiada lagi harapan yang tersisa bersamamu,
lenyap terbawa tak tersisa.

Kau yang dulu telah merebut kebebasanku,
kau yang dulu berbangga atas kegilaanmu atasku,
kau yang dahulu bermain curang.

Kini kau hanya mengeruk isi yang ada di dalam negeriku,
kekayaan alam terus kau kuras,
kau mengambil lahan yang seharusnya dilindungi.

Kau berbagi lahan yang bukan milikmu,
kau atur seenaknya tanpa ada rasa bersalah,
kau membunuh yang empunya.

Hak hidup tertekan,
hukum buatamu sendiri kau melanggar,
dan tidak diadili walau kau salah,
rakyat yang lawan kau salahkan.

Hak kemerdekaan telah diatur,
Mukaddimah UUD 45 dan Pancasila mengaturnya,
rapih dan tertata,
tapi menjadi ideologi semua,
tak berfungsi,
mati total.

Hak untuk merdeka kau rampas tanpa ampas,
ambisimu melebihi seratus kali lipat,
tahun demi tahun hanya berlalu tak ada makna,
ini negara boneka tunggal ika yang konyol.

Tahun demi tahun berlalu hanya kenangan goresan luka,
suara-suara merdeka tertumpah di atas darah manusia,
stigma separatis meraja,
kau tangkap dan penjara pun penuh,
walau stigma itu salah dan konyol.

Di atasnya tanah anak manusia keriting, harus diperlakukan dengan tidak manusiawi,
Sudah semakin jelas,
tiada arti hidup bersamamu,
tiada harapan denganmu.

Cerita sejarah yang tak bisa kau lenyapkan,
sudah terkuak dan terdengar dikota-kota,
cerita sejarah sudah terdengar turun temurun,
mata generasi muda sudah terbuka lebar,
mereka bangkit melawan,
untuk mengusirmu keluar dari negeri ini.

Dalam dada kuberjanji,
tetap kokoh bersama rakyat terlantar,
dalam hening ku pikir,
jeritan menjadi teman hidup yang aman damai,
dia setia dalam langkah hidup,
tak pernah jauh dari hadapan wajah.

Walau berjanji dan melangkah,
ratapan berulangkali memukul dada yang rapuh,
nilai hidup menjadi kering kerontang,
tapi haruskah aku pesimis dan menyerah,

Jangan…! janganlah pasrah
sebelum aku mencoba semuanya,
melawan berontak seramnya wajah,
dan meraih mimpi yang kuasah
hinggah terisolasi janjiku,

Semakin hari semakin nyata,
jalan yang kita tempuh,
berat dan berlliku,
tetapi tetap kita jalani.

Ini perjuangan kita,
melangkah mengejar ratapan,
menjadi seperti yang kita cita-citakan,
jadi jangan curangi dan nodai perjuangan ini
Sudah cukup derita ini,
sudah cukup cerita palsu di atas perlakuan keji ini,
sudah cukup perampasan hak hidup ini,
ini titipan Sang Ilahi untuk anak cucu negeri ini.

Jangan ambil dan kuras,
masih tak cukupkah?
kau menambah luka penderitaan dan ratapan panjang ini.

Kami generasi baru,
akan bangkit dalam kesadaran,
melawan tirani penindasan yang kau bangun,
penguasa tak bermoral yang kau sebarkan.

Haruskah kuhenti disini,
aku harus kokoh optimis,
akan kubawa ratapan menjadi damai,
akan kubawa tangisan menjadi kasih,
bagi tanah leluhur pusaka,
bagi rakyat yang sedang melarat ditindas,
di nusantara bumi pertiwi,
agar dipelukan hidup damai.

 

Juara 2

DORUS, MENGAPA ‘KAU LALUKAN ITU?
Karya: No Uak

Suatu tindakan diam bukan berarti diam melainkan tidak akan pernah diam.
Dorus telah membuktikannya!

Alam seakan tahu apa yang dirasakan oleh anak-anaknya. Tak hanya simpati, tetapi empati bagi anak-anaknya di tanah Papua. Air matanya turun mengalir melalui kedua pipinya mungilnya, terus membasahi tanah Papua. Keperawanan yang bertahun-tahun dijaga, hilang seketika oleh napsu bejat akan kelanggengan kekuasaan demi kenikmatan sesaat. “Dasar napsu yang tak terkontrol,” gerutunya.

Angin pun mengamuk atas perlakuan anak cucunya yang telah tercoreng martabatnya. Amukannya sangat menakutkan pepohonan. Dia terus menghardik ranting-ranting pohon. Jeritan teriak minta tolong dan pengampunan tak mampu meredakan amarahnya. “Apa salah dan dosa anak cucuku. Mengapa mereka harus mengalami nasib seburuk ini. Tak adakah kasih dan keadilan buat mereka?” Batinnya terus menghardik apapun yang ingin menghentikan amarahnya.

Langit semakin gelap, dimake-up awan gelap wajah sedih atas nasip anak-anaknya. Gemuruh guntur pertanda lonceng genderang perkabungan telah dimulai. Makhluk-makhluk penghuni jagat kembali ke peraduannya. Dorus salah satunya dari sekian makhluk penghuni tersebar di tanah Papua.

Dorus bukanlah apa-apa dari sekian banyak kerumunan masa. Kelihatan bagai seekor semut kecil yang tak berdaya dihadapan seorang bayi. Saking kecilnya, dalam hitungan satu dua tiga, nyawa hilang tanpa jejak. Dorus yang kecil bagi seekor semut tak mampu bersuara dihadapan pemerintah yang telah memperkosa martabatnya sebagai manusia Papua.

Jangankan bersuara, kehadirannya tak ada memberikan sedikit efekpun pada yang lainnya. Bagaimana Dorus bisa memberikan aspirasinya demi menyelamatkan nasip kaumnya yang terbelenggu. “Tetapi saya harus melakukan sesuatu demi kaumku” batin Dorus.

Dorus hanyalah seorang anak SD kelas 5. Pengetahuannya pun sangat minim. Sebagai anak kampung, yang tinggal jauh di pedalaman sulit mendapat perhatian dalam segi apapun itu. Keadaan alam inilah yang membuat Dorus dan teman-temannya mengalami kesulitan dalam belajar. Tenaga pendidik pun hanya 3 yakni Pak Andreas, Pak Goris dan Pak Anton. Ketiganya yang harus mengajar enam kelas. Satu guru bertanggung jawab atas dua kelas. Walaupun hanya tiga guru, merekalah hadiah dan berharga bagi Dorus dan teman-temannya. Bagai dewa ketiga guru ini diberikan perhatian. Fakta yang tak dapat ditolak. Dorus dibentuk oleh alamnya yang demikian.

Buku-buku pendidikan pun sangat sulit didapatkan. Dorus dan teman-temannya memperoleh pengetahuan berkat satu dua buku pegangan dan ingatan pengetahuan yang diperoleh ketiga gurunya semasa di bangku pendidikan. Minim dan sangat kurang dari standard, namun itu kekayaan ilmu yang berharga buat dorus dan teman-temannya.

Bagi Dorus, ketiga gurunya ini bagai cahaya ditengah kegelapan malam. Mereka bertiga hadir membawa setitik terang menuntun Dorus dan teman-temannya berjalan melewati jalan yang penuh bahaya. Jalan gelap tak berpetunjuk arah. “Ketiga penyelamat utusan Tuhan buat mereka. Ketiga malaikat titipan Tuhan” kata Dorus suatu ketika setelah pelajaran agama berakhir.

Bagi Dorus, ketiga gurunya bukan hanya sumber pengetahuan akal, pembimbing nalar tetapi juga pembentuk hati. “Jangan pernah kamu memisahkan akal-pikiranmu dengan budi-hatimu. Keduanya harus sejalan. Akal-pikiran tanpa hati itu hanyalah retorika kosong tanpa landasan untuk berpijak. Kata-kata bualan logis yang tersusun rapi atas premis-premis yang yang lurus sehingga kedengaran masuk akal namun yang nyatanya adalah premis-premis mengiring para pendengar menuju pada kesesatan berpikir yang dibalut dengan teknik dan gaya berlogika yang sehebat sehingga membungkus sampai tak kelihatan dan ketahuan cacat dari sesat berpikir itu. Untai retorika sangat indah bahkan sampai meninabobokan para pendengarmu tak sadarkan diri kalau mereka sedang digiring menuju moncong kesia-siaan. Alhasil retorika berakhir dengan kesia-siaan tanpa adanya bekas yang tertinggal.” Nasihat Pak Andres wali kelas 5 dan 6 yang sebetulnya telah keluar jauh dari materi pokok pembahasan mereka hari ini. Kegiatan belajar mengajar terhenti dengan bel menunjukkan jam 13:00, waktunya untuk kembali ke rumah. Anak-anak termasuk Dorus, saking seriusnya mendengarkan Pak Andreas hingga tak menyadari kalau sudah saatnya untuk pulang. Dorus sangat terkesan dan mengikuti apa yang dijelaskan oleh guru favoritnya. Dorus sangat mengagumi sosok Pak Andreas yang pintar tetapi sangat baik dan sederhana. Dia berusaha menjelaskan setiap pelajaran sesederhana mungkin sampai murid-muridnya mengerti. Pak Andreas baru bisa berlangkah ke topik yang berikut setelah dia memastikan semuanya paham. Dia tak mau asal cepat sehingga pokok bahasan terselesaikan dalam waktu yang singkat. Bagikan walaupun lambat, tetapi ditangkap, diresapi dan dihidupi oleh anak didiknya sebagai harta dikemudian hari. Secara diam-diam itu sedang dialami oleh Dorus.

Semakin hari Dorus tumbuh dan berkembang dalam ilmu pengetahuan dan juga iman. Dalam keterbatasan, Dorus tidak putus asa. Alam membuatnya semakin kuat dan tangguh. Dorus hanya mengandalkan sinar matahari sebagai teman belajarnya di waktu siang. Malam hari bulan dan bintang tak cukup membantu belajar. Namun kehadiran bulan dan bintang meyakinkannya bahwa mereka selalu bersamanya. Bisa membuat Dorus tersenyum itu sudah cukup.

Kicauan burung menjadi musik dan lantunan lagu merdu baginya. Musik indah dari mulut alam pangkuannya. Tak ada satu pun nada yang fals kedengaran. Semua nada mengalun begitu lembut, membuat Dorus menetaskan air matanya mengingat kisah Pak Andreas kala itu. “Kita semua yang tercipta di dunia ini adalah anak-anak Tuhan. Anak-anak yang dikarunikan Tuhan melalui orang tua kita. Kita semua sama. Sama diharap Tuhan. Kita semua dikasihi oleh Tuhan. Kita memiliki harkat dan martabat yang sama. Tak ada satu pun manusia pun yang mengatakan dirinya lebih tinggi dihadapan Tuhan. Orang Amerika tidak lebih mulia dari orang Indonesia. Orang Indonesia tidak lebih kuat dari orang Jepang. Orang Jawa tidak lebih istimewa dari orang Papua. Orang Jakarta tidak lebih pintar dari orang Papua. Kita semua sama. Tuhan telah memberikan karunia pada diri kita. Dia menciptakan dan meletakkan kasih, cinta dan perhatian di dalam hati kita masing-masing. Dia tidak menyimpan kasih itu di kaki, di tangan, di lengan, di kepala atau di tempat manapun. Dia menyimpan di hati sehingga kita dapat merasakan setiap kasih dan perhatian sehingga di kemudian hari, kita bisa membagi kasih itu kepada setiap orang dengan adil. Kita dapat bertindak adil kepada setiap orang tanpa memandang siapa orangnya, siapa sukunya, dari mana asalnya. Ketika kita bertindak adil, kita telah membagikan kasih kepada orang lain. Keadilan yang dikehendaki bukanlah keadilan yang matematis, dua bagi dua sama dengan satu. Keadilan yang dimaksdkan adalah keadilan yang proporsional” kenang Dorus atas kata-kata Pak Andres sambil memikirkan situasi yang sedang berlangsung di daerahnya.

“Proses pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah atas nama pemerataan kesejahteraan masyarakat sangat istimewah dan mulia tetapi apakah cukup dengan label seperti itu dengan melihat fenomena yang terjadi di lapangan? Apakah pemerataan kesejahteraan men gharuskan banyaknya korban jiwa sebagai tumbal? Apakah manusia sudah kehilangan rasa cinta, kasih sehingga keadilanpun turut menghilang?” Batin Dorus terus mengingat kata-kata Pak Andreas. “Ingat anak-anakku. Ketika ketidakadilan dihadapanmu, majulah untuk melawan demi kasih yang telah diberikan dalam hatimu. Sekecil apapun usahamu demi keadilan, akan diperhitungkan. Lakukan sesuatu. Jangan menunggu waktu sebelum kesempatanmu itu diambil daripadamu. Ambillah kesempatan itu. Jangan menunggu bahkan menundah sebab kesempatan tidak akan datang keduakalinya” kata-kata Pak Andreas terus menggema semakin kuat dalam diri Dorus. Sebagai putra Papua, dia ingin melakukan sesuatu demi kaumnya yang terbelenggu atas nama pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Ayo Dorus, lakukan sesuatu. Kamu pasti bisa. Jangan takut. Kamu di jalan yang benar. Jangan pernah takut akan perbuatan baik yang kamu lakukan. Lakukan sesuatu demi kasihmu kepada kaummu. Kasih dan keadilan janganlah menjadi budak pemerataan kesejahteraan masyarakat” dorongan kata hati nurani Dorus.

Alam tak pernah berbohong. Persahabatan terus terjalin dengan Dorus. Mentari tersenyum manis padanya. Langit tampak cerah bagi hatinya. Alam mendengarkan batinnya. Alam mengiyakan dan mengijinkannya ‘tuk melakukan sesuatu walaupun itu kecil demi kasih akan keadilan kaumnya yang tertindas. Dorus yakin akan keputusannya.

Berbekal pengetahuan Geografi di kelas 4 SD, Dorus memberanikan diri seorang diri ke Jakarta untuk bertemu Pak Presiden guna menyampaikan aspirasinya. Walaupun tinggal di Papua yang sangat jauh dari ibu Kota Indonesia, Dorus mampu mengimajinasikan melalui cerita dan penjelasan Pak Goris yang pernah dan menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dorus merasa sangat terbantu atas ilmu yang ditularkan oleh guru “Peta hidup” julukan Pak Goris yang diberikan oleh anak-anak didik. Mengapa tidak? Setiap tempat yang ditanya, Pak Goris tahu. Bukan hanya tahu, tetapi mengetahui dengan jelas dan menjelaskan dengan rinci. Maka tidak salah dia mendapat julukan “peta hidup” atau “globe berjalan”.

Dorus pergi tanpa ijin dan sepengetahuan orang tuanya. Diapun sengaja tidak mau menyampaikan pada orang tua. Apalagi meminta ijin. Otomotif orang tuanya tidak mengijinkannya. Maka sebelum meninggalkan rumah, Dorus menulis pesan pada secarik kertas untuk orang tuanya. “Bapa dan mama yang Dorus cintai. Maaf bila kepergian saya tanpa ijin dan sepengetahuan darimu berdua sebagai orang tua. Bukannya tidak menghargai dan berbakti kepada kalian. Saya sudah tahu, bapa dan mama tidak akan mengijinkan untuk pergi. Bapa dan mama jangan mempertanyakan ke mana aku pergi, tetapi saya hanya mau mengatakan, saya pergi untuk banyak orang, untuk nasib kaum kita yang terbelenggu dan itu untuk bapa dan mama juga. Dari anakmu, meminta doa dan restu. Ikhlaskan jalanku. Suatu ketika telah usai kata hatiku, saya akan kembali bersamamu. Ikhlaskan kepergianku. Kalian akan tahu nantinya.” Pesan ditutup dengan tandatangani Dorus, “Dari anakmu, Dorus”. Surat diletakkan di bawah bantal.

Dorus pergi meninggalkan kampung halamannya bermodal tas samping anyaman daun lontar pemberian kakeknya. Isinya beberapa kertas dan uang untuk membeli tiket. Uangnya merupakan hasil tabungannya selama kurang lebih lima tahun hanya cukup untuk membeli tiket pergi saja. Uang tabungan hasil perlomba. Dorus tergolong pintar shingga sering mengikuti perlomba. Hadiah kejuaraan lomba berupa uang selalu ditabung oleh Dorus. Kadang juga uang hasil pemberian pemilik kebun setelah seharian dibantu oleh Dorus. Hasil tabungan uang sendikit demi sedikit ini dapat menyelamatkan Dorus ke Jakarta untuk bertemu Pak Presiden orang nomor satunya Indonesia.

Tak ada ketakutan sedikitpun pada diri Dorus. Dia percaya kata-kata Pak Andreas, “bila kita berbuat baik, jangan takut. Segalanya pasti ada jalan”. Kata-kata Pak Andreas ini bagai senjata dan kekuatan hati bagi Dorus untuk bertindak. “Kebaikan tidak pernah akan terkalahkan oleh kejahatan” kata-kata Pak Andreas bagi mantra bagi Dorus.

Pesawat siap diterbangkan dari Jayapura ke Jakarta dan harus transit di Bali. Jam 10:00 pagi, Dorus meninggalkan tanah tercinta, tanah Papua. “Tidak bermasalah. Tahu atau tidak tahu, ada mulut. Saya masih bisa bertanya ketika sampai di Bali” batin Dorus. Selama 4 jam, Dorus terasa bagai berada di luar angkasa. Dia hanya bisa memandang bumi dari ketinggian di atas awan. Pengalaman yang indah buat Dorus. Lima belas menit sebelum mendarat, paramugari mengajak penumpang untuk kembali ke tempat duduk masing-masing, menggunakan ikat pinggang dan menunggu sampai pewasat mendarat dengan baik. Walaupun masih sangat kecil dan pertama kali tidak membingungkan Dorus. Pak Goris adalah malaikatnya.

Di Bali, Dorus harus bersabar menunggu sedikit lebih lama. Setelah menunggu lima jam, Dorus diberangkatkan dari Denpasar menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Dua jam lagi Dorus sudah menginjakkan kakinya di ibu kota negara. Begitu kagumnya ketika turun dari pesawat melihat begitu besar bandara Soekarno Hatta. Beda sekali dengan bandara yang di daerahnya. “Maklum Dorus kita di daerah. Ini ibu kota negara” katanya dalam hati.

Tanpa harus menunggu lama, Dorus keluar dari bandara dan menuju parkiran. Ketika ditawari taksi, tanpa berpikir panjang Dorus langsung menyetujui permintaan sopir taksi. “Mau kem mana adik?” tanya supir taksi. “Ke Tempat Bapak Presiden mas.” Kata Dorus dengan percaya diri. Sopir taksi heran kebingungan tidak percaya mendengar alamat yang dikatakan Dorus. “Anak kecil kampungan begini mana mungkin bertemu Presiden. Tidak mungkin dia diijinkan untuk bertemu Pak Presiden” cela sopir taksi dalam batinnya. Demi uang dan tugasnya hanya untuk membawa Dorus. Dia tidak mau pusing dengan apa yang barusan dikatakan oleh Dorus.

“Adik, kamu yakin ke istana Presiden?” Tanya sopir dengan memaksakan diri dengan dialek Timur, melihat tipe Dorus yang sangat khas Timur-Papua yang memang saat ini sedang dipromosikan keindahan alam sehingga semakin banyak yang kenal. “Iya Mas. Saya yakin sekali Mas. Itu sudah saya punya tujuan Mas ” jawab Dorus dengan logat Papua yang sangat kental. Tidak heran Dorus menyapa dengan “mas”, semua orang Jawa dipanggil mas. “Tapi ini sudah malam adik. Sudah jam begini, Pak Presiden tidak bisa menerima tamu.” Kata mas Eko, sopir taksi. “Tidak apa-apa Mas. Besok saja juga baik” Kata Dorus. “Tapi nanti adik tidur di mana?” Tanya Mas Eko penasaran. “Soal tidur tidak masalah Mas” jawab Dorus santai menyakinkan Mas Eko.

Percakapan Mas Eko dan Dorus terhenti kala tiba di depan Istana Presiden. “100 ribu adik.” Kata pak Eko ketika mobil berhenti. Dorus mengambil uang dalam tas anyamnya, menghitungnya perlahan-lahan. Maklum masih kecil yang tidak terbiasa menghitung uang. Tiba-tiba Dorus kelihatan sedih, ketika hitungan uangnya tidak mencukupi biaya perjalanannya. Dia mencoba menghitungnya lagi. Hitungannya tetap sama Rp90.000,00. “Mas uang saya hanya 90.000 saja ini. Saya tidak punya uang lagi Mas” kata Dorus dengan nada merendah. “Apa, yang kurang?” Kata Mas Eko. “Uang Mas. Kurang Rp10.000. Uang saya hanya Rp90.000” jawab Dorus. “Jadi maksudnya, kamu hanya bisa membayar saya 90.000?” Kata Mas Eko. Dorus hanya mengangguk saja mendengar pertanyaan Mas Eko. “Sini uangnya” sambil mengambil uang dari Dorus. “Adik, lain kalau tidak punya uang jangan naik taksi. Jalan kaki saja. Jangan buat diri punya banyak uang, tapi tidak bisa bayar taksi” kata Mas Eko. Mas Eko masuk ke dalam mobil taksi dan menghitung uang lagi yang telah dihitungnya beberapa kali. Entah mengapa, tanpa sadar Dorus memasukkan tangannya dalam tasnya. Dorus menarik semacam ada kertas dalam tasnya. Ternyata uang 10.000 terselip di dalam tasnya. Dorus langsung mengetuk Kaka jendela mobil yang sengaja ditutup oleh Mas Eko agar tetap dingin karena dia menggunakan AC. “Ada apa?” Tanya Mas Eko dari dalam mobil dengan nada marah tanpa menurunkan kaca mobil. “Ini” sambil menunjuk uang 10.000. Tanpa menunggu lama, Mas Eko menurunkan kaca mobilnya. Dorus mendekat ke ara Mas Eko, “Mas lain kali, jangan hanya tahu menghina orang ya. Walaupun dari kampung, saya tahu diri. Saya diajarkan oleh orang tua dan guru saya untuk memberikan kepada orang lain apa yang harus saya berikan. Saya sangat malu kalau saya tidak memberikan seharusnya saya harus berikan. Tadi saya hanya meminta sedikit waktu untuk bersabar, tetapi Mas langsung menghujani saya dengan kata-kata amarah yang membuatku sangat tersandera. Apakah Mas mengira Mas lebih hebat dan pantas hidup di dunia ini. Kita sama-sama Manusia. Kita sama-sama orang Indonesia dan tidak seharusnya menghina sesamanya yang seperti Mas lakukan terhadap saya tadi. Ini uangnya Mas. Uang 10.000 yang kurang tadi agar genap 100.000 sesuai tarifnya. Semoga lain kali Mas tidak menghina orang lain seperti yang Mas lakukan kepada saya. Semoga usaha dan karya Mas diberkati Tuhan” kata Dorus panjang lebar mengingatkan Mas Eko. Mas Eko melihat dan memandang dorus penuh heran. “Siapa anak kecil ini Sampai menceramahi saya malam-malam begini” kata Mas Eko dalam hati tanpa membalas kata-kata Dorus yang sangat menusuknya walau benar sekali apa yang Dorus tujukan pada dirinya.

Kepergian Mas Eko meninggalkan Dorus sendirian. Dorus dan Mas Eko menghabiskan sekitar enam puluh menit mempersoalkan uang 100.000. Waktu menunjukkan pukul 11.00. Tanpa sadar dua jam Mas Eko dan Dorus bersama. Satu jam dari bandara menuju istana presiden, yang seharusnya ditempuh 30 menit. Tetapi mustahil untuk menempuh dalam waktu 30 menit, karena macet yang merupakan khas kota Jakarta. Tidak macet kalau bukan Jakarta.

Tak ada pilihan lain. Mata Dorus semakin berat. Rasa kantuk terus memburunya, memaksanya untuk segera melekatkan kepalanya untuk menemukan dunia mimpinya. Tak ada rotan akar pun jadi”. Ini yang bisa digambarkan buat Dorus saat ini. Langit satu-satunya menjadi atap naungannya malam ini untuk berteduh. Bumi trotoar depan istana menjadi alas tempat tidur membaringkan tubuhnya. Lampu jalan menjadi teman setianya malam ini. Nyamuk-nyamuk nakal datang terus mencandai dengan nyanyian yang sangat menggangu. Tetapi nyanyian para nyamuk usil tak mempengaruhi Dorus. Rupanya Dorus sangat kelelahan. Tetapi benar kata Pak Michael, guru sejarah, “orang baik dan lurus hati, tidak akan dibiarkan Tuhan. Alam akan bersamanya memberikan perlindungan.” Dorus beristirahat dengan aman.

Hilang indahnya kota Jakarta mengagetkan Dorus. Sang mentari membangunkannya dari lelap tidurnya. Rupanya sudah pukul 7.00 pagi Waktu Indonesia Barat. Dorus segera bangun, merapikan dirinya apa adanya. Memastikan dirinya rapih dengan langkah pasti Dorus memasuki pintu gerbang istana. Langkah Dorus terhenti oleh seorang penjaga keamanan istana presiden. Percakapan keduanya berlangsung yang berujung kesedihan pada Dorus. Dorus tidak diijinkan oleh petugas padahal hanya satu keinginannya yakni bertemu presiden.

Tanpa putus asa Dorus tetap berjuang untuk memperjuangkan aspirasinya demi kasih dan keadilan Papua. Langkah pertamanya gagal. Dorus tidak kehabisan akal. Segalanya telah dipersiapkan oleh Dorus segala kemungkinan bisa terjadi. Kini Dorus sendiri di luar pagar depan istana merdeka.

Panas teriknya kota Jakarta tak menyurutkan semangat Dorus. Dorus memulai aksinya. Panas teriknya laksana kobaran api yang terus membakar. Dorus melakban mulutnya dengan lakban hitam besar dan mengambil dua buah kertas bertuliskan “PAK PRESIDEN KAMI JUGA MANUSIA DAN KAMI ORANG PAPUA JUGA ADALAH BAGIAN DARI ORANG INDONESIA. TOLONG DENGARKAN ASPIRASI KAMI” dan mengangkatnya menghadap istana presiden. Dorus telah menyiapkannya sebelum berangkat ke Jakarta.

Orang-orang yang lewat berkendaraan merasa heran akan aksi Dorus ini. Mereka mengira mungkin salah satu orang gila yang berkeliaran di ibu kota Jakarta. Entah mengapa, seorang wartawan secara diam-diam mengabadikan moment langkah ini yang mungkin akan menjadi suatu berita yang laku. Dia terus mengikuti apa segala aksi Dorus. Sebagian orang yang lewat, dengan senyuman memandangi Dorus. Ada dengan tawa hinaan kepada Dorus. Dorus tak memusingkan apa kata orang kepadanya. Yang perpenting baginya adalah menyuarakan aspirasinya dalam nada diam itu.

Hari pertama berlalu namun kobaran api semangat dalam diri Dorus tak kunjung padam. Tidak ada reaksi dari pihak istana atas aksinya Dorus. Rasa lapar dan haus tidak membuat Dorus patah semangat. Dia tak mau dikuasai lingkungan. Dia mau membuktikan pada dunia, bahwa dia bisa. Dorus terbakar oleh api perjuangan dalam dirinya. Perjuangan akan harkat dan martabat kaumnya yang teraniaya. Hari kedua, mulutnya tetap dilakban. Tulisan ditangannya diganti, “PAK PRESIDEN KAMI PUNYA HATI DAN KAMI HANYA INGIN DIDENGARKAN, (KEADILAN)”. Dorus pun melakban matanya seolah-olah dia buta. Berakting sebagai orang buta. Dorus di hari kedua ini, mengundang semakin banyak orang yang mulai simpatik. Awalnya antipati. Yang awalnya tertawa, mulai bertanya-tanya ada apa dengan anak kampung ini. Wartawan yang mengikutinya sejak hari pertama, terus mengabadikan moment ini. Dia terus mengikuti tanpa melewati satu momen pun. Baginya ini akan menjadi berita yang akan sangat mahal. Hari kedua berlalu pihak istana pun tak tergerak hatinya untuk mempertemukan dirinya dengan Pak Presiden.

Hari ketiga, aksinya Dorus menggila hingga sampai pada titik mengorbankan nyawanya. Alam selalu bersamanya. Bersahabat dengannya. Panasnya terik hari ini, sepanas hati Dorus yang terus berjuang tanpa lelah. Hari ketiga, Dorus memegang dua buah kertas, satu berwarna putih dan satu berwarna hitam. Dua kertas itu bergambar hati yang berluka sedang mengalir darah, di bawah kedua gambar hati, tertulis, “KAMI MENCINTAIMU PAK PRESIDEN. APAKAH PAK PRESIDEN MENCINTAI KAMI?”

Aksi Dorus ini membuat orang-orang semakin kasih. Untuk hari ketiganya Dorus memiliki tidak makan dan minum. Dorus kelihatan semakin lemah. Wajahnya semakin pucat. Dia masih mau bertahan dalam keadaannya seperti itu. Banyak orang memberinya makanan dan minuman tetapi tidak membuatnya tergoda untuk menyentuhnya. Dia fokus pada tujuannya yakni Menyatakan aspirasinya. Wartaman itu tetap mengikuti dan mengabadikan moment itu. Wartaman sendiri merasa ngeri bahkan takut ketika melihat Dorus melakban hidungnya juga. Mulut, mata dan hidung. Dilakban oleh Dorus. Wartawan ingin menghalangi dan menggagalkan aksi mengerikan ini tetapi dia memilih untuk tidak menggangu Dorus. Dia membiarkan Dorus melakukan sesuatu tujuannya.

Sebagai anak yang masih sangat muda dalam usia anak SD kelas 5 Sungguh sangat mengerikan. Pada jam 12.00 siang, Dorus kehabisan tenaga. Dia jatuh tak tersadarkan diri. Setiap orang yang lewat berhenti. Kendaraan yang lewat semuanya berhenti menyaksikan peristiwa ini. Wartawan salah satu saksinya. Dia telah mengabadikan segala moment yang lewat. Setiap orang yang menyaksikan sangat syok, terharu. Dorus telah mengembuskan napas terakhir. Seketika langit tampak mendung. Kabut menaungi ibu kota. Kilat menyambar-nyambar. Hujan meratapi kepergian Dorus dengan rintik-rintiknya. Alam berkabung atas perginya anak manusia yang aspirasinya tak didengarkan.

Tak menunggu waktu, sang wartawan langsung mempublikasikan di media sosial apa yang terjadi Dorus. Apa yang dilakukan Dorus selama tiga hari aksi diam di depan istana presiden. Aksi diam Dorus yang kecil tetapi sangat besar gemanya. Aksi yang disepelekan tetapi ledakannya sangat dahsyat.

Para wartawan pun mulai berdatangan. Stasiun televisi tak ketinggalan menyalurkan aksi Dorus. Wartawan yang telah mengabadikan moment Dorus selama tiga hari, menjadi satus-satunya sumber inforamasi berita. Hanya dialah yang sumber informasi apa yang telah dilakukan Dorus. Sementara Dorus dilarikan ke rumah sakit. Namun sayang, Dorus telah tak bernapas lagi.

Berita siaran televisi pun tersiar sampai di Papua. Keluarganya, bapa dan mamanya sangat kaget mendengar berita tersebut. Berita ini, membuat bapa dan mamanya mengerti isi surat yang ditinggalkannya di bawa bantal. Mereka sangat kehilangan. Bukan hanya orang tuanya, tetapi seluruh warga Papua.

Berita ini tidak hanya tersiar di dalam negeri tetapi sampai di luar negeri. Banyak negara ikut mengejam pemerintah atas sikap dan tindakan mereka sampai membiarkan Dorus meninggalkan dengan cara yang sangat mengusik. Negara-negara luar, Bahkan PBB mendesak dan meminta dengan tegas agar pemerintah segera menyelesaikan persoalan yang terjadi di tanah Papua. Bila tidak pihak PBB akan mengambil alih untuk menindaklanjuti persoalan itu.

Aksi diam Dorus membawa perubahan dan perhatian fokus pada Papua. Pemerintah melalui Presiden, menggerakan dan memerintahkan pihak-pihak yang terkait untuk sesegera mungkin menyelesaikan persoalan itu. Keadilan ditegakkan bagi masyarakat Papua. Masyarakat memperoleh keadilan. Pelaku-pelaku yang terlibat dalam tindakan ketidakadilan diperiksa dan diberikan hukuman setimpal dengan perbuatannya. “Apa yang dituai itulah yang ditanam”. Itu pepatah yang bisa diungkapkan bagi para pelaku ketidakadilan terhadap masyarakat Papua. Tekanan dunia begitu kuat bagi pemerintah. Pihak pemerintah bekerja keras penuh extra. Kerja keras membuahkan hasil. Tiga bulan persoalan dapat teratasi.

Orang-orang Papua kini hidup bebas. Tidak merasa tertekan. Pemerintah melalui Pak Presiden, secara langsung meminta maaf pada masyarakat Papua atas penganiyaan dan penyiksaan yang terjadi. Juga permintaan maaf yang sebesar-besarnya, khusunya, kepada Dorus dan keluarganya. Pak Presiden menutup dengan mengajak semua pihak untuk saling bekerja sama, bahu membahu membangun bumi ini Indonesia. Saling menjaga persatuan dan kesatuan sebagai satu Nusa satu bangsa yakni bangsa Indonesia.

Benar kata pak Andreas “setiap perbuatan kasih demi sebuah keadilan, sekecil apapun itu, akan menghasilkan buah”. Aksi diam Dorus tanpa suara dan hanya dengan tulisan, Dorus mampu menggemparkan dunia. Kasihnya pada Papua demi keadilan di tanahnya dibayar dengan nyawanya. Bagi orang Papua, Doruslah pahlawan keadilan. Mereka sangat menghormati jasa Dorus yang dikorbankanya demi tanah Papua.

 

Juara 3
SETELAH BUNYI SENAPAN
Karya: Oktovianus Marianus Kolo

Setapak demi setapak kulalui menuju lorong di sudut kompleks tempat tinggalku. Dulu kompleks ini merupakan sebuah tempat perkumpulan orang-orang pelarian yang takut akan pertumpahan darah di tanah ini. Namun tempat ini bukan hanya sebagai tempat persembunyian bagi mereka saja melainkan juga tempat pencurahan isi hati akan bahaya-bahaya yang sedang dan terus menghantui mereka. Di tempat inilah rasa cinta tumbuh seiring dengan deraian nafas yang berhembus keluar masuk dengan bebasnya.

Ketika sampai pada sebuah batu besar sebagai penutup tembok berlubang, aku duduk sendiri pada batu besar itu, mencoba hening dan membiarkan diri dalam suasana teduh. Di antara keheningan itu, ratusan orang sedang berteriak dengan penuh semangat.

“Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Suara itu kemudian semakin lama semakin keras. Ya, itu adalah suara ratusan orang sedang meneriakkan keadilan. Tempat mereka tidak jauh dari tempatku berada, hanya sekitar 300 meter. Tetapi suara mereka menggelegar hingga tubuhku merinding.

Sebelum kejadian ini terjadi, masyarakat hanya diam dan hidup dalam kebimbangan. Perlawanan mereka secara nyata pastinya akan menemui satu kepastian: mati. Ya, kekerasan dan pertumpahan darah seakan-akan sudah menjadi saudara tiri bangsa ini. Tapi apa daya, politik kekuasaan memegang kendali atas semuanya ini. Hingga tiba pada hari ini, semua kekecewaan itu terluapkan. Tapi tidak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan.

Selama beberapa menit aku hadir tanpa pikiran yang terfokus. Rasa hanyut dalam kabut kengerian menenggelamkan aku pada dinginnya udara panas yang sedang berada di atasku. Aku takut. Sudah lama aku tidak merasa takut. Aku takut bukan karena kengerian itu, tapi aku takut karena tak ada lagi belas kasihan di antara manusia. Aku takut bukan karena panasnya amarah manusia, tapi aku takut pada dinginnya otak manusia yang sudah dibekukan oleh keegoisan. Aku pun beranjak dari tempat itu, meninggalkan kengerian itu bersama batu dan tembok yang saling berpelukan.

Pikiran itu terus membayangiku setiap kali aku mengukir jejak pada tanah. Lantas aku terantuk ketika sebuah tembakan terdengar di gugusan langit. Tanpa pikir panjang, aku mempercepat langkahku, dengan harapan hawa kematian menghilang bersama angin.

“Tiarap-tiarap!!” terdengar suara teriakan yang tidak jauh dari tempatku berada.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada seorang yang sedang berlari ke arahku.
Ia tidak menjawab. Ia hanya menarik tanganku dan menarik aku bersetubuh dengan tanah. Sedetik kemudian suara tembakan pun mewarnai bumi kompleks kami. Ribuan bahkan jutaan peluru menerobos setiap dinding yang sedang berdiri, tak perduli kokoh atau tidak.

Kami merayap cepat. Dengan suara terengah-engah, ia mengajakku untuk mencari tempat perlindungan. Tak ada tempat yang cocok agar kami terhindar dari peluru yang seakan mengejar nyawa kami, kecuali tembok pada sudut kompleks kami dengan sebuah batu besar sebagai penghalangnya.

Kami berdiam di belakang batu tersebut. Aku tak berani bertanya pada dirinya yang sedang mengatur nafasnya yang hampir menghilang. Ia diam, sambil menundukkan kepala. Suara tembakan masih menggelegar di mana-mana. Gendang telingaku hampir pecah mendengarnya.

Satu jam, dua jam kami menunuggu hingga suasana reda.
Malam telah memakaikan baju hitamnya pada bumi. Namun, belum ada satu lampu pun yang bernyala, meskipun masih tersisa gaung ribuan tembakan tersebut. Belum ada suara kehidupan hewan malam yang melantunkan lagu-lagu mereka.
Kami telah menunggu selama tiga jam, tanpa kata dan suara yang keluar dari tenggorokan. Kulihat ia masih tertunduk. Entah apa yang dipikirkannya.

Setelah tak ada satu bunyi lagi di bumi ini, hanya desahan nafasnya yang tersisa, ia pun mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku. Ia tak mampu untuk berdiri dan melihat di sekelilingnya. Ia bukanlah seorang dari ratusan orang yang bersamaku di tempat ini. Namun, aku menemaninya duduk hingga ia berani untuk mengeluarkan kata-kata.
“Apakah semua sudah aman?” tanyanya padaku seakan-akan aku mengerti situasi yang sedang terjadi.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa suara tembakan senjata terdengar di sini?”
“Kami dikejar karena berani mengungkapkan hak kami. Padahal yang kami inginkan hanyalah kebebasan di tanah kami. Tak ada yang mampu melihat kehidupan kami lagi. Semua orang merasa jijik karena keberadaan kami.”“Apa yang telah kalian lakukan terhadap mereka? Apakah kalian menghina mereka?” tanyaku memperdalam suasana.
“Tidak ada niat sedikit pun pada diri kami untuk menghina mereka. Yang kami lakukan ialah menghina diri kami sendiri yang tidak mampu membebaskan diri dari ikatan dunia ini” ungkapnya tak berpengharapan.
Lantas, ia pun menangis.

“Aku tidak tahu di mana istri dan anak-anakku sekarang”, suaranya terasa berat seperti pintu yang dibuka paksa.
Ia pun bercerita bahwa ia memiliki sebidang tanah. Sebuah tempat yang tepat untuk membangun kehidupannya bersama istri dan anak-anak. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menghidupi keluarga. Bisa dibilang keluarganya tergolong keluarga yang sejahtera dan bahagia. Lantas ia diundang untuk menyuarakan keprihatinan masyarakat hingga kejadian naas itu terjadi. Dan kini semuanya hanya duka dan penyesalan.

Ketika malam sudah sangat gelap, kami pun sepakat untuk mencari istri dan anak-anaknya. Aku kenal betul tempat ini dan beberapa tempat persembunyian di sekitar sini. Tetapi sayang, ketika kami mencari di semua tempat, yang ada hanyalah gelengan kepala dari setiap orang yang ditanyai.

“Dorrr!” bunyi tembakan terdengar lagi.

Kami langsung menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar gelap tak berpenghuni. Semuanya kembali pada keheningan yang mendalam ketika tembakan menggelegar. Tempat ini sudah seperti kuburan.
Suara tembakan masih terngiang di telingaku. Aku mencoba menghilangkannya dengan jeritan suara alam melalui nyanyian binatang-binatang malam yang mulai berdendang.

Cahaya lampu belum satu pun yang bernyala. Aku belum berani bertanya lagi. Lelaki itu tertunduk. Ia berdoa sambil menangis di sudut malam, sambil menunggu besarnya mujizat yang akan datang di esok hari.

 

Juara 4
Melampaui Seorang Samaria?
Karya: Andreas Maurenis Putra

Narasi Alkitabiah tentang perjumpaan seorang Samaria yang murah hati dan orang sekarat dalam sebuah perjalanan menjadi ilustrasi perjumpaan secara holistik. Orang sekarat yang menderita akibat dirampok dan dianiaya mengalami sentuhan fisik sekaligus psikis yang mendamaikan dan menggembirakan. Sementara, orang Samaria mewakili sebuah spritualitas identitas citra Allah. Sentuhan yang terpancar dari sebuah kesadaran pribadi sebagai mahkluk multidimensional (religius, individu dan sosial) membawa pembebasan jesmani dan rohani. Pemberian diri dari orang Samaria dan penerimaan sebagai simbol membuka diri dari orang yang sekarat menjadi jembatan refleksi pengenalan diri secara menyeluruh. Jembatan ini penting agar bisa melahirkan pribadi-pribadi Samaria baru terlebih di dalam modernitas. Modernisasi itu baik tapi tak dipungkiri cenderung mengikis pancaran kebaikan yang seharusnya menjadi roh penggerak rutinitas. Modernitas tak pelak, mengaburkan kebermaknaan dimensi dasariah manusia sebagai rekan kerja Allah, makhluk yang bertubuh dan mahkluk bermasyarakat. Kaburnya dimensi dasariah inilah merenggangkan intimasi antar individu dan individu dengan Sang Pencipta. Alhasil pemberian (giveness) dan penerimaan (acceptance) sangat jarang ditemukan sebagai karakter ketimbang sebatas aktivitas. Persis inilah yang menjadi satir keseharian yang menghias wajah keindonesiaan kita.

Melahirkan seorang Samaria baru memang bukan kemustahilan namun cukup kepayahan jika dibenturkan dalam multikulturalisme Indonesia. Bukan tidak mungkin tetapi menjadi orang murah hati saja tidak cukup untuk membangun manusia-manusia Indonesia tetapi perlu melampaui karakteristik orang Samaria. Mengapa? Pemberian dan penerimaan tidak cukup saat melihat yang lain terkapar, menderita, teraniaya dan saat dalam kondisi memprihatikan melainkan melihat secara keseluruhan diri yang lain melalui perjumpaan sehari-hari. Perjumpaan itu hanya bisa dialami lewat, mengutip Emanuel Levinas, wajah yang hadir dihadapan kita. Tidak perlu menunggu saat orang lain membutuhkan bantuan, tetapi karakteristik orang Samaria yang murah hati harus dibangun setiap saat berjumpa wajah.

Maka hemat saya, berbicara perihal kasih dan kepedulian, bukan semata-mata hanya ketika berhadapan dengan kemiskinan, kemelaratan, keterbelakangan, kelaparan dan bahkan kematian tetapi setiap kali berhadapan dengan wajah yang terpancar dihadapan kita. Wajah itu beraneka namun sekaligus unik. Bisa saja sahabat, tetangga, suku dan bangsa lain. Bisa jadi wajah itu adalah orang Sumatera, orang Jawa, orang Kalimantan, orang Sulawesi, orang Nusa Tenggara, orang Bali dan orang Papua. Maka tampilnya wajah dihadapan kita, di mana pun dan kapan pun, harus mampu menggugah sikap etis. Sikap etis yang dimaksud adalah tanggung jawab. Praksisnya adalah kasih dan kepedulian. Jika kasih dan peduli ini dibangun maka pemberian dan penerimaan diri bisa mengakar kuat dalam semua sendi kehidupan.

Yang terjadi dengan saudara-saudari kita di Papua bukan sekedar memodernisasi kondisi mereka supaya terlihat trendy seperti daerah lain di Indonesia (membangun infrastuktur). Tidak selalu salah tetapi cukup keliru mengatakan mereka sangat butuh sebuah perubahan praktis. Mereka mengkonsumsi nasi, sah-sah saja tetapi bagaimana nanti jika suatu saat mereka akan melupakan sagu sebagai, bukan hanya makanan tetapi warisan peradaban khas yang perlu dijaga. Dan saya pikir dibalik konsumsi sagu sebetulnya ada nilai-nilai hidup yang berproses. Apakah cukup bijak dan menjadi sebuah keharusan membuka banyak jalan trans papua jika kelak kesenian dan budaya mendayung sampan akan lenyap ditelan orientasi pada modernisasi. Bukan anti pembangunan untuk saudara-saudara di Papua tetapi mari kita lihat nilai apa yang perlu disampaikan dan dirawat ke depannya terutama dalam hidup berbangsa yang multikultural ini. Mereka adalah mutiara bangsa ini tetapi dikeruk habisan-habisan (entah siapa yang mengeruknya) hingga meredup cahaya kemilaunya. Entah siapa yang diperkaya dengan proyek raksasa freeport yang sudah puluhan tahun. Proyek lokal perkaya sebagaian besar non-lokal dengan dalih yang ‘masuk akal’. Akibatnya, mata akan terus melihat dan telinga akan terus mendengar benturan-benturan antar mereka dengan idealisme berbeda.

Yang perlu diperhatikan sebetulnya menyapa mereka. Perjumpaan adalah nilai kehidupan yang mesti dijaga. Perjumpaan akan membawa pada sebuah intimasi yang akan membuat mereka merasa dihargai, diperhatikan dan dicintai. Bebas dan utuh sebagai pribadi. Mereka akan merasa menjadi bagian dari sejarah perjuangan bukan pelengkap sejarah. Mengapa banyak konflik suku, ide dan suara kebebasan, dan wacana untuk mandiri? Akar rumputnya adalah hilang yang namanya, perjumpaan. Kehilangan sentuhan pada sisi ini tergambar jelas dalam respon dan sikap kurang bersahabat. Raut kebencian dan dendam adakalanya menjadi simbol penolakan atas kunjungan para aparat. Ekstrimnya, pendekatan militarisasi diinterpretasi sebagai mekanisme meraup keuntungan dan strategi dehumanisasi kebebasan. Yang tersaji di hadapan kita adalah aparat versus masyarakat yang mengusang. Kalau soal pembangunan, semua orang Indonesia berhak mendapatkanya tanpa terkecuali. Pembangunan bukan aksi gegabah karena daerah tertentu sudah tertinggal.

Yang cukup keliru, bahkan sesumbar telah menjadi kebiasaan berbangsa, adalah afeksi akan tersentuh, bila berhadapan dengan yang terkapar di depan mata. Padahal yang semestinya adalah kesadaran etis harus selalu dibangun setiap hari terutama bertemu orang lain. Tanpa harus menunggu bila ada yang sekarat. Kesadaran etis itu akan mampu membuat setiap pribadi memadang yang lain sebagai sesama. Konsep sesama adalah siapa pun yang kita jumpai setiap hari apa pun situasi dan kondisinya. Perspektif mengenai sesama tidak hanya dinilai ketika seorang mampu melihat dan menolong yang lain keluar dari penderitaannya melainkan dikerucutkan dengan menghargai yang lain dengan semua kebertubuhannya, keunikannya dan keberlainannya. Jika setiap individu mampu melihat perspektif ini maka akan tumbuh sikap etis (tanggung jawab) yang direalisasikan lewat sikap kasih dan peduli yang dalam praksisnya semua orang akan saling memberi dan menerima tanpa kondisi tertentu.

Maka menjadi orang Samaria yang murah hati di jaman modern belum cukup karena konteksnya dibatasi situasi dan kondisi tertentu. Kita perlu melampaui perspektif ini. Melampaui seorang Samaria. Kriteria sesama bukan hanya dimensi aksi dalam krisis tetapi keseluruhan sikap dalam perjumpaan keseharian terlebih dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, keindonesian kita.

 

Juara 5

MENJAMAH PAPUA DENGAN KASIH
Karya: Meki Mulait

Sudah lama orang Papua berjuang untuk hidup bebas sama bebasnya dengan manusia di belahan dunia lain. Teriakan mereka sudah lebih dari 50 tahun (1961-2018) tanpa pernah didengarkan dan ditanggapi oleh pemerintah pusat. Pemerintah melihat persoalan Papua hanya sebatas persoalan kesejahteraan. Maka untuk mengejar kemajuan ekonomi, solusi yang didorong adalah pembangunan infrastruktur. Pergantian kepemimpinan dari satu presiden ke presiden lain sejak Soekarno sampai dengan Jokowi cara memandang dan mendekati masyarakat Papua sama saja. Pemerintah pusat menjamah Papua secara top down dengan bekingan keamanan militer.

Demi ekonomi dan keamanan nasional, sudah lama Papua ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Sudah 12 kali operasi militer di Papua seperti: Operasi Sadar (1965), Operasi Barathayuda (1967), Operasi Wibawa (1969), Operasi Militer (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1982), Operasi Galang I dan II (1981), Operasi Tumpas (1983 dan 1984), Operasi Sapu Bersih, Operasi Mapenduma (1996), Operasi Manokwari, (2001), Operasi Wamena (2003), Operasi Puncak Jaya (2004) sebelum keterlibatan militer pada kasus Nduga (04/12/2018), (Oehring, 2009:5-7). Meskipun DOM sudah dicabut recara resmi oleh pemerintah pusat pada 1998, namun pendekatan keamanan masih terus mewarnai Papua sampai hari ini. Lebih dari 500.000 orang Papua menjadi korban kekerasan militer yang menimbulkan sikap traumatis yang sulit tersembuhkan. Akibat tindakan pemerintahan Jokowi mendorong pembangunan infrastruktur di Papua yang dikawal oleh militer, baru saja kita saksikan 15 warga sipil pekerja jembatan dari P.T. Istaka Karya di kabupaten Nduga diberitakan meninggal dunia oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). (tabloidjubi.com, 06/12/2018). Kasus ini memberikan sinyal bahwa pendekatan pemerintahan Jokowi membuka jalan trans Papua dengan bekingan militer tidak sepenuhnya didukung dan diterima oleh orang Papua. Penolakan itu terjadi karena ada kecurigaan dan ketidakpercayaan masyarakat Papua terhadap program top down pemerintah pusat bermotifkan ekonomi tanpa kemanusiaan.

Pembangunan Papua tanpa Kemanusiaan
Mengapa pembangunan yang digenjot oleh pemerintah pusat dan didukung oleh pemerintah daerah melalui sejumlah kebijakan seperti Otsus 2001, UP4B, dan berbagai Keputusan Presiden (Keppres) tentang pembangunan Papua, tidak dapat menekan konflik kekerasan bersenjata yang berlangsung lebih dari 50 tahun? Mengapa pemerintah pusat tidak mampu membuat masyarakat Papua tidak turun jalan menuntut “hak penentuan nasib sendiri” yang merupakan sebab utama pelanggaran HAM di Papua? Di sinilah persis letak persoalannya. Antara tuntutan masyarakat Papua dengan kebijakan pemerintah pusat tidak terjadi singkronisasi. Pemerintah sudah tahu letak akar persoalannya tetapi mencarikan solusi yang lain tidak seturut akar persoalannya. Pemerintah terus memutarbalikan fakta sejarah tanpa pernah berdiskusi dengan masyarakat Papua untuk mencari apa yang sesungguhnya menjadi pergumulannya. Janji presiden SBY (2004) mendekati Papua dengan hati secara dialogis bahkan oleh presiden Jokowi (2014 dan 2017) dialog dengan masyarakat Papua hanya berhenti pada wacana, (Kompas.com, 09/05/2015). Pemerintah melihat masyarakat Papua dari aspek ekonomi semata, sementara sisi kemanusiaan diabaikan begitu saja. Padahal kita tahu bahwa harga diri dan rasa kemanusiaan itu sama pentingnya dengan kebutuhan ekonomis. Pemerintah lupa bahwa demi harga diri dan bangsa, seseorang berani bertarung di medan pertempuran dengan taruhan nyawa. Pemerintah pusat terlalu sering menjustifikasi bahwa persoalan Papua itu soal kesejahteraan. Oleh karena itu, yang perlu dibangun adalah infrastruktur supaya masyarakat sejahtera dan kemudian diam. Masyarakat Papua tidak menuntut merdeka lagi.

Cara pemerintah mengatasi persoalan Papua bukannya membuat rakyat Papua percaya dan menerima, namun justru semakin apatis dan mencurigakan. Masyarakat Papua melihat dan merasakan bahwa Jakarta lebih mementingkan sumber daya alamnya daripada manusianya. Pembangunan infrastruktur dilihat sebagai upaya mengkapling Papua oleh investor di bawah pengawasan militer (pembangunan pos-pos militer) daripada pemberdayaan ekonomi rakyat Papua yang selama ini menjadi dalih pembangunan pemerintah. Perjalanan panjang dan ingatan kolektif penderitaan akibat pengerukan perut bumi Papua oleh investor dengan pengawasan militer seperti PT. Freeport Indonesia, Kelapa Sawit di Keerom dan di Tajah Lereh, Minyak di Sorong, Batu Bara di Bintuni, dll, pembangunan infrastruktur yang didorong lebih untuk kepentingan investor dan kepentingan nasional (pusat) daripada kesejahteraan orang Papua (www.Jeratpapua.org, 11/06/2014). Masyarakat Papua selain menjadi obyek pembangunan tetapi juga terkena dampak buruknya seperti ancaman limbah, bahan makanan habis karena lahan pencarian makan (sagu) dibabat habis, kekerasan militer kepada masyarakat lokal demi pengamanan investor bahkan tersebarnya penyakit sosial seperti HIV/AIDS. Ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan eksistensi masyarakat Papua di tanah leluhurnya sendiri. Masyarakat Papua sudah tersingkir dari hak-hak dasarnya. Jimi Elmslie peneliti dari Australia sudah pada kesimpulan bahwa 2030 orang Papua hanya akan tinggal 15% dari seluruh jumlah penduduk Papua (Haluk, 2015). Jika pemerintah dan masyarakat Indonesia lain bahkan masyarakat internasional tidak segera campur tangan atasi masalah Papua, maka Papua hanya akan menjadi kenangan cerita bahwa pernah hidup manusia hitam kulit keriting ramput. Kami tidur di atas emas, minyak, kayu, dan beragam limpah kekayaan, tapi itu bukanlah milik kami. Para pencuri lebih mengutamakan kekayaan sehingga nyawa kami menjadi taruhannya. Papua surga kecil yang jatuh ke bumi hanyalah nyanyian ratapan mengiringi menuju Papua surga suram penderitaan.

Meskipun begitu, tahun 2014 harapan kemanusiaan itu sebenarnya sudah muncul ketika calon presiden berlatar sipil, Joko Widodo menang atas penantangnya Prabowo Subianto. Atas dasar harapan itu, di Papua dalam pemilihannya Jokowi menang telak 72,49% dari masyarakat Papua dan 67,63% Papua Barat (Kompas.com,22/07/2014). Awal-awal kepemimpinannya, masyarakat Papua semakin diyakinkan karena presiden Jokowi berjanji akan menyelesaikan sejumlah kasus pelanggaran HAM Papua dan bersedia berdialog dengan masyarakat Papua untuk mencarikan solusi secara bersama. Jokowi semakin mengambil hati rakyat Papua dari sudut rasa kemanusiaan karena berjanji ke Papua tiga kali dalam setahun (Tempo. co, 27/12/2014). Dalam praktisnya, Jokowi memang telah melakukan hampir delapan kali kunjungan ke Papua. Sayangnya dalam kunjungan sebanyak itu, Jokowi lebih banyak mengabaikan janjinya demi mengejar pembangunan infrastruktur versi Jakarta. Manusia Papua yang tidak kritis melihat kunjungan Jokowi suatu kegembiraan tetapi mereka yang kritis dilihat sebagai pengkhianatan. Natalis Pigai mantan komisoner HAM mengkritik kunjungan Jokowi tanpa efek bagi Papua (Kompas.com, 18/10/2016).
Janji Jokowi yang cukup melukai hati rakyat Papua sampai saat ini adalah penyelesaian kasus Paniai berdarah, 8 Desember 2014 yang merupakan satu kasus pelanggaran HAM berat selain kasus Biak berdarah (1998), Wasior berdarah (2001) dan Wamena berdarah (2000 dan 2003). Saat merayakan natal nasional di lapangan Mandala Jayapura, 27 Desember 2014, Jokowi berjanji akan segera menuntaskan kasus Paniai. “Saya ingin kasus ini diselesaikan secepat-cepatnya, agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Kita ingin, sekali lagi, tanah Papua sebagai tanah yang damai,” tuturnya (bbc.com,28/12/2014)”. Namun sampai saat ini termasuk sejumlah kasus pelanggaran HAM Papua yang lain tidak dapat diselesaikan. Janji Jokowi saat acara natal itu sangat urgen dan menjadi pertanyaan besar bagi orang Papua karena disampaikan saat hari besar bagi iman umat Kristiani. Hal inilah yang membuat masyarakat Papua sudah pada krisis kepercayaan kepada pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan persoalannya. (Bdk. Mulait: Puncak Krisis Kepercayaan Masyarakat Papua pada Jokowi, tabloid jubi.com, 10/04/2016).

Masyarakat Papua akan percaya niat baik pemerintah pusat mendorong pembangunan infrastruktur kalau juga memperhatikan persoalan pelanggaran HAM yang kini sudah bagai benang kusut yang sulit diurai. Sejauh masyarakat Papua diperlakukan sebagai obyek pembangunan tanpa dipandang sebagai subyek, maka suara mereka tidak dapat di dengarkan. Orang Papua terus hidup dan bergumul dengan persoalan rasa kemanusiaan dan penghargaannya sebagai manusia. Dari lima kepemimpinan presiden yang berbeda sejak Soekarno sampai Jokowi, hanya presiden Abdurrahman Wahid 2000-an (Gus Dur) sedikit melihat Papua dari kaca mata kemanusiaan. Gus Dur memberikan kebebasan bagi orang Papua untuk mengekspresikan diri sebagai manusia dan memberi ruang untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Puncak kebijakannya, pada 2000 orang Papua berkumpul di Gedung Olahraga (GOR) Jayapura untuk berbicara persoalannya dan mencarikan solusi secara damai dan demokratis. Kongres menghasilkan resolusi “meluruskan sejarah Papua dan menyampaikan keinginan menentukan nasib sendiri secara damai” (Alua, 2000).

Kasih sebagai Pondasi Pembangunan Papua
Jika persoalannya serumit benang kusut yang sulit diurai, solusi apa yang lebih tepat bagi Papua? Dalam membangun Papua, pemerintah dan masyarakat Indonesia sebagai anak-anak sebangsa perlu merubah paradikma berpikir dan bertindak bagi Papua. Pemerintah pusat dan masyarakat nusantara mesti melihat Papua dari sudut pandang kasih dan kemanusiaan. Pendekatan militer, ekonomi, infrastruktur ternyata tidak mampu melunturkan hati masyarakat Papua dan kepercayaan diri serta rasa memiliki terhadap Negara Kesatuan Repiblik Indonesi (NKRI).

Pendekatan humanisme mantan presiden Gus Dur mesti menjadi cerminan yang bagus untuk dilakukan oleh presiden Jokowi dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Kasih akan melunturkan segala macam perbedaan, kebencian, kecurigaaan, dll. Kasih adalah jalan perdamaian dan pembangunan Papua. Melalui kasih dan persaudaraan, orang Papua akan merasa bahwa harga dirinya sebagai manusia diakui dan dihargai. Namun kasih mesti secara otentik bukan kepura- puraan (palsu). Kasih yang otentik membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Pemerintah mesti berani berkorban untuk memandang Papua secara baru bahkan mengambil kebijakan yang berani sesuai dengan kondisi dan pergumulan masyarakat Papua. Manusia Papua mesti diberi kebebasan untuk mengekspresikan diri sebagai manusia yang hidup di zaman demokrasi.

Selain itu, kasih juga bisa disumbangkan melalui keterlibatan dalam mengajar, merawat kesehatan, bahkan melatih ketrampilan ekonomi kerakyatan. Dengan demikian, masyarakat Papua menjadi subyek atas dirinya sendiri. Kasih itu butuh pengorbanan dan pengabdian yang tulus. Selain kita tetap berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang peduli dengan kemanusiaan di Papua, dan yang telah mengabdi sebagai guru dan perawat, juga dibutuhkan lebih banyak masyarakat nusantara yang solider dengan persoalan Papua. Kami percaya bahwa hanya dengan demikian, Papua akan semakin baik karena dapat disentuh dengan kasih dari berbagai lapisan masyarakat dengan upaya-upaya yang kongkret.

Referensi:
Agus. A. Alua, Kongres Papua 2000, Jayapura: Biro Penelitian STFT “Fajar Timur”, 2002.
Markus Haluk, Papua Di Ambang Kepunahan, Jayapura: Sekretariat ULMWP, 2015.
Otmar Oehring, Upaya Lintas Agama demi Perdamaian di Papua Barat, Lembaga Misi Katolik Internasional, 2006.

 

Juara 6
Narasi Elegi Anak Negeri Di Tanah Terjanji
Oleh: Fian N

Duka beribu luka menyusup ke segala tubuh.
Semesta menjerit ketakutan atas darah yang meminta pembalasan yang entah.
Namun, semua diam tanpa kata.
Bisu tiba-tiba mencekam segala rasa iba.
Yang akhirnya hanya ada diam.
Diam yang benar-benar tak bernyawa melawan segala yang telah terjadi di depan mata.
Lantas ada tanya hadir di sana, apakah ini sebuah kesepakatan yang telah dicanangkan sejak awal mula semesta ini dijadikan?

Kain dan Habel, sepertinya kembali diundang.
Mungkin masih terus hidup di dalam jiwa setiap insan hingga kini di sini.
Kain yang saat itu dipenuhi kedengkian dan kemarahan pun menuntut keadilan terhadap Yahwe yang menjadikannya ada.
Pembunuhan berdarah terjadi di sana tanpa sebuah rencana.
Tidak ada diskusi terencana.
Semuanya serba tiba-tiba.
Di sana tak ada belas kasihan yang direkayasa!

Darah yang sama dari tubuh Habel kembali menjerit-jerit di tanah terjanji.
Tubuh-tubuh kaku dalam sekejap dilahap amunisi.
Hanyalah moncong bedil yang menjadi saksi terakhir atas elegi ini.
Apakah ada yang peduli?
Apakah ada yang berani bersuara menuntut keadilan?
Ataukah semua diam lantaran takut akan kematian yang datang menggerogoti.
Semesta bersedih menyaksikan keserakahan tanpa kenal batas.
Segala tubuhnya dicabik-cabik deru kekinian.
Roda-roda besi menggilas tubuhnya hingga terguncang tanpa ampun.
Tangisan-tangisannya pun kian mengguncang langit malam.
Sebab, jauh di sana, ibu kota telah mati nurani.
Yang berdiri mengencingi diri sendiri.
Menatap dari kejauhan lalu sekadar berucap apa kabar yang jauh di sana.
Ironi yang terjadi! Tubuh pun jadi pelampiasan empuk si moncong bedil.

Terdengar jelas, “alam adalah kami. Yang kami lakukan hanyalah bersahabat dengan alam. Sebab, alam adalah rumah.”
Sebuah ultimatum yang merongrong tuan yang asyik santai di singgasana.
Yang lebih banyak basa-basi lalu ingkar janji.
Lalu bicara soal reputasi nyatanya bangkai kematian yang tersaji.
Negeri ini lucu, di tanah sendiri, pembunuhan jadi warisan klasik yang keji.
Di mana nuranimu saat ini?
Hanyalah tanya yang berkali-kali dibawa lari lalu mati di dalam laci yang miskin konsolidasi. Di sana-sini, orang-orang tawa hahahihi menyaksikan rentetan panjang sejarah yang penuh kebobrokan tentang kemanusiaan.
Tubuh dibantai sana-sini.
Di negeri sendiri, anak-anak seperti anak tiri di bawah keadilan yang dikebiri.

Elegi ini, elegi anak negeri yang terbunuh di tanah terjanji.
Di mana lagi pertiwi menguburkan segala duka serta luka? Pada tubuh sendiri? Mungkin saja tidak! Dalam ingatan? Apa lagi yang terakhir, pasti tak akan ada tempat.
Yang terjadi di sana adalah kelupaan terencana.
Lalu membawanya kabur.
Di sini, tinggallah jejak yang menyakitkan.
Ada genangan-genangan kenangan yang muncul dari dahaga kasih.
Akan tetapi, yang diterima adalah cuka kesombongan dari istana yang megah yang diwariskan sejarah masa lampau.

Hei, sahabat, apa kabar?
Yang di singgasana jangan diam saja.
Sebab, di tanah terjanji masih ada yang menagih janji.
Di sini, jangan kau tanya damai apalagi sejahtera.
Kalau ada mengapa masih ada darah-darah dari tubuh tak bersalah?

Ini adalah narasi panjang elegi anak negeri yang mati di tanah terjanji
Beribu luka juga duka menanti lupa di kepala yang kian menua dalam ingatan
Dengan sadar suara lantang kami kumandangkan
Yang kami minta adalah kepastian bukan kematian
Yang kami tuntut adalah keadilan bukan ketimpangan
Jika yang kau kirim adalah kepalsuan yang kami balas adalah pembantaian
Adilkan?
Itulah keadilan tanpa kasih yang pasti!

Maumere, 15/12/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × five =